Thursday, May 30, 2013

SILENT WAY



1.                SILENT WAY

Ø  The Silent Way is a language a teaching method created by Caleb Gattegno that makes extensive use of silence as a teaching technique. It is not usually considered a mainstream method in language education. It was first introduced in Gattegno's book Teaching Foreign Languages in Schools: The Silent Way in 1963. Gattegno was skeptical of the mainstream language education of the time, and conceived of the method as a special case of his general theories of education.
Ø  The method emphasises the autonomy of the learner; the teacher's role is to monitor the students' efforts, and the students are encouraged to have an active role in learning the language. Pronunciation is seen as fundamental; beginning students start their study with pronunciation, and much time is spent practising it each lesson. The Silent Way uses a structural syllabus, and structures are constantly reviewed and recycled. The choice of vocabulary is important, with functional and versatile words seen as the best. Translation and rote repetition are avoided and the language is usually practiced in meaningful context. Evaluation is carried out by observation, and the teacher may never set a formal test.
Ø  The teacher uses silence for multiple purposes in the Silent Way. It is used to focus students' attention, to elicit student responses, and to encourage them to correct their own errors. Even though teachers are often silent, they are still active; they will commonly use techniques such as mouthing words and using hand gestures to help the students with their pronunciation. Teachers will also encourage students to help their peers.
Ø  Silent Way teachers use specialized teaching materials. One of the hallmarks of the method is the use of Cuisenaire rods, which can be used for anything from introducing simple commands to representing abstract objects such as clocks and floor plans. The method also makes use of color association to help teach pronunciation; there is a sound-color chart which is used to teach the language sounds, colored word charts which are used to teach sentences, and colored Fidel charts which are used to teach spelling.

The Media use to teach silent way.











WHOLE LANGUAGE



1.  Whole Language

Whole language  adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa  yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli  whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language ,  pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama.  Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran  menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).

Ciri-ciri Kelas Whole Language            
Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language
A.        Kelas yang menerapkan whole language  penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan  bulletin board.  Karya tulis siswa dan chart  yang dibuat siswa menggantikan bulletin board  yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku petunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.
B.        Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.
C         . Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
D.        Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language  hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.
E.          Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.
F.         Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.
G.        Siswa mendapat balikan (feed back)  positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.  Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.


Penilaian dalam Kelas Whole Language
Dalam kelas whole language  guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Secara informal selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok maupun diskusi kelas. Ketika siswa bercakap-cakap dengan temannya atau dengan guru, penilaian juga dilakukan. Bahkan, guru juga memberikan penilaian saat siswa bermain selama waktu istirahat. Kemudian, penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi. Walaupun guru tidak terlihat membawa-bawa buku, guru menggunakan alat penilaian seperti lembar observasi dan catatan anekdot. Dengan kata lain, dalam kelas whole language  guru memberikan penilaian pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain penilaian informal, penilaian juga dilakukan dengan menggunakan portofolio. Portofolio adalah kumpulan hasil kerja selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.

GRAMMAR TRANSLATION METHOD



1.    GRAMMAR TRANSLATION METHOD

GRAMMAR-TRANSLATION METHOD bukanlah metode pengajaran bahasa yang baru. Mungkin metode ini mempunyai nama yang berbeda-beda tetapi digunakan oleh guru bahasa bertahun-tahun. Pada awalnya, metode ini dinamakan Classical Method karena metode ini pertama kali digunakan dalam mengajarkan bahasa-bahasa klasik, Latin dan Greek (Chastain 1988). Kekinian, metode ini digunakan sebagai tujuan untuk menolong siswa membaca dan mengapersiasi literatur bahasa asing. Metode ini juga diharapkan, melalui pembelajaran grammar dari bahasa asing, siswa menjadi familiar dengan grammar bahasanya sendiri dan kefamiliaran ini akan menolongnya untuk berbicara dan menulis bahasanya sendiri dengan benar. Akhirnya, metode pengajaran ini akan membuat siswa tumbuh secara intelektual; metode pengajaran ini juga akan membuat siswa mungkin tidak pernah menggunakan bahasa yang asing yang dipelajari, tetapi latihan-latihan di dalam metode ini akan sangat berguna kedepannya.
  

Tujuan Penggunaan GTM
Menurut guru yang mengunakan Grammar-tanslation Method, tujuan fundamental dari pengajaran sebuah bahasa asing adalah untuk bisa membaca literatur tertulis dari bahasa tersebut. Untuk melakukannya, siswa membutuhkan belajar tentang peraturan grammar dan vocabulary atau kosakata dari bahasa asing tersebut.

Peran Guru dan Siswa Dalam GTM
Peran pada metode ini sangat tradisional. Peran guru adalah sebagai pemegang kekuasaan di kelas. Dan peran siswa hanya menuruti apa yang guru ajarkan, siswa melakukan apa yang yang guru katakan, siswa belajar apa yang pengajar tahu.

  
Karakteristik Proses Pembelajaran Dalam GTM
Siswa disuruh untuk mengartikan teks dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Seringnya apa yang mereka artikan adalah bacaan-bacaan dari bahasa asing yang dipelajari tentang beberapa aspek kebudayaan dari komunitas atau pengguna asli bahasa asing tersebut. Pelajar atau siswa belajar grammar secara deduktif, yaitu pengajar memberi peraturan-peraturan grammar dan contohnya, kemudian siswa disuruh untuk menghafalnya, dan kemudian disuruh untuk menggunakan peraturan tersebut ke contoh yang lain. Siswa juga belajar paradigma-paradigma dalam grammar seperti noun, verb, adverb, dan lain sebagainya. Siswa menghafal padanan kata dari bahasa aslinya sendiri dengan kosakata dari bahasa asing yang dipelajari.

Interaksi Guru-siswa Dalam GTM
Kebanyakan interaksi yang terjadi di ruangan kelas adalah antara guru terhadap siswa. Sedangkan interaksi siswa terhadap guru dan interaksi sesama siswa sangat minim.
                  

Language Skill Dalam GTM
Vocabulary dan grammar sangat ditekankan sekali dalam metode ini. Reading dan writing adalah primary skill atau kemampuan utama yang siswa lakukan. Terdapat sedikit perhatian yang tertuju pada speaking dan listening, begitu juga terhadap pronunciation.

Evaluasi Dalam GTM
Test tertulis sering digunakan untuk mengevaluasi siswa dengan mengartikan bahasa asing yang dipelajari ke bahasa aslinya sendiri atau sebaliknya. Pertanyaan yang menyangkut peraturan grammar dair bahasa asing yang dipelajari atau bahasa asli siswa juga sering dijumpai.

DIRECT METHOD



1.    DIRECT METHOD


Pengertian DIRECT METHOD atau pemahaman dari Direct Method yaitu berasal dari kata Direct yang artinya langsung. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemontstrasikan, menggambarkan dan lain-lain.

Ciri-ciri metode ini adalah :
  1. Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat
  2. Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utam adalah siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik
  3. Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (bnda tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu
  4. Setelah masuk kelas, siswa atau anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.
Kebaikan metode langsung (Direct)
Metode langsung (direct) dilihat dari segi efektivitasnya memiliki keunggulan antara lain :
  1. Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan
  2. Karena metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dan lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya.
  3. Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga : apakah video, film, radio kaset, tape recorder, dan berbagaimedia/alat peraga yang dibuat sendiri, maka metode ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang/tertarik, maka pelajaran terasa tidak sulit
  4. Siswa memperoleh pengalaman langsung danpraktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya
  5. Alat ucap / lidah siswa/anak didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan
Kekurangan-kekurangan metode langsung (Direct)
  1. Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidakdapat memotivasi siswa, bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dfongkol karena kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat dimengerti, karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak.
  2. Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan, karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti
  3. Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak didik.
Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan maupun atas karena si siswa merasa telah memiliki bahan untuk bercakap/cercicara dan tentu saja agar siswa betul-betul merasa tertantang untuk bercakap/berkomunikasi; maka sanksi-sanksi dapat ditetapkan bagi mereka yang menggunakan bahasa sehari-hari.

Karakteristik Proses Pembelajaran Dalam Direct Method
Guru yang menggunakan metode ini memaksa siswa untuk memahami arti dari bahasa sasaran (target language) secara langsung. Untuk melakukannya, ketika guru mengenalkan sebuah kata atau phrase bahasa sasaran, guru mendemonstrasikan artinya melalui penggunaan realia, gamba, atau pantomim; guru tidak boleh mengartikannya secara langusung ke bahasa asli (native language) siswa.

Interaksi Guru-siswa Dalam Direct Method
Interaksi antara guru dengan siswa berjalan dari dua arah, baik dari guru ke siswa atau dari siswa ke guru, tetapi kebanyakan interaksi berjalan dari guru ke siswa. Interaksi antar siswa juga banyak terjadi dalam metode ini.

Language Skill Dalam Direct Method
Vocabulary sangat ditekankan melebihi grammar. Meskipun metode ini dapat berkerja pada semua basic skills bahasa Inggris seperti reading, writing, speaking, dan listening dari awal pembelajaran, tetapi komunikasi secara lisan dilihat sebagai basic skill. Pronunciation juga mendapatkan tempat dalam metode ini, dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran.